Ini
kisah dimana saya harus berhadapan dengan 10 orang. Saat itu saya kelas 1 SMP,
dimana saya masih keanak – anakan dan
belum bisa berfikir dewasa, kalau saja waktu itu saya tidak mempedulikannya,
mungkin tidak akan kejadian seperti ini.
“TOK!!” BUNYI KEPALA BERBENTURAN
ceritanya
saya mempunyai teman penduduk asli sebut saja namanya John, dan teman saya lagi
asal kalimatan sebut saja namanya Hasyim, ketika itu saya duduk di satu meja
bersama Hasyim ketika lagi asyik ngobrol tiba – tiba dari belakang si Jhon
membenturkan kepala saya dengan kepala Hasyim, saya juga tidak mengerti apa
maksud dari kelakuannya si Jhon itu? Lumayan keras sampai – sampai berbunyi
“TOKK!!” (bunyi kepala berbenturan), akhirnya saya pun jengkel, kesel, marah,
campur aduk jadi satu, dengan nada tidak bersalah si Jhon berkat:
Jhon
: lapo? Lapo? Ora trimo
ta? (bahasa jawa)
Saya
: lapo kwe bentur – bentur
noo kepalaku?
Hasyim
: lah iyoo kwe ora enek kerjaan
ta??
Jhon
langsung menantang saya dan Hasyim berantem, karena waktu itu saya orangnya
tidak suka kekerasan (lebih tepatnya saya tidak pernah berantem hahahah), saya
diam saja.
DIAM BUKAN BERARTI TAKUT
Tapi
diam saya bukan diam takut akhirnya saya melapor kejadian ini ke wali kelas
saya, setelah saya melaporkan kejadian ini, Jhon memanggil temannya dari kelas
2 SMP mengancam saya dan teman saya Hasyim. Di saat itu wali kelas saya sebut
saja namanya pak Anton (nama samaran ) beliau memanggil saya dan hasyim untuk
menjelaskan kronologinya, setelah selesai saya jelaskan akhirnya si jhon dan
temannya di panggil keruang BP.
TERDENGAR SUARA “PLAKK!!”
“PLAKK!!”
suara tamparan terbunyi keras dari ruang BP entah siapa yang di tampar?? hahahah tapi pada saat itu masalah ini
bukannya selesai malah berbuntut panjang, keesokan harinya saya merasa selalu
di awasi oleh beberapa orang dari kelas 2, hahhahh dunia ini jadi terasa sempit
saya jadi tidak bisa kemana – mana ke kantin harus melewati ruang kelas 2jadi
mau tak mau saya ahrus di kelas sepanjang hari.
DI HADANG 10 ORANG
Sepulang
sekolah tidak biasanya saya semangat, dengan adanya kejadian ini hati saya
selalu was – was alhasil saya paling terakhir keluar dari gerbang sekolah, hari
sudah mulai gelap, beberapa santri pun sudah bersiap – siap untuk melaksanakan
solat mahgrib. Saya pun tidak mau ketinggalan saya juga bersiap – siap untuk
berangkat solat mahgrib, setelah saya melaksanakan solat mahgrib ketika ingin
pulang saya melihat ada segerombolan muda – muda pribumi (penduduk asli)
mungkin sekitar 10 orang menaiki sepeda, seperti menunggu seseorang, dari jauh
saya perhatikan sepertinya saya mengenali salah satu dari mereka. Ternyata
dugaan saya benar dia adalah teman sekelas saya yaitu JHON.
JURUS 1000 LANGKAH
Dugaan
saya benar meraka menunggu saya, hahaahah itu perkiraan saya karena jarang –
jarang mereka ada di depan masjid tempat saya tinggal, akhirnya saya menunggu
sampai yang keluar banyak, dengan perkiraan waktu yang tepat akhirnya saya bisa
lolos dari segerombolan pemuda tersebut dengan menggunakan jurus 1000 langkah.
PENGECUT
Apakah
kalian berfikir saya ini pengecut?? Hahahah benar saya memang pengecut karena
di hadang 10 orang. Bagaimana dengan mereka?? menghadapi 1 orang saja butuh 10
orang. Kalian bisa menilai sendiri siapa yang lebih pengecut??
Dari
cerita saya tersebut, kita bisa ambil hikmahnya :
1. Jika kalian adalah seorang pendatang, maka jangan
cari masalah dengan penduduk asli.
2. Selesaikanlah masalah kalian sendiri, itu akan
membuat kalian bisa menjadi lebih dewasa.
3. Perbanyaklah sabar dan diam, karena diam itu emas.
4. Kalau kalian dihadang 10 orang maka gunakanalah
jurus saya ini, hahahha karena walaupun dihadapi pasti kita akan bonyok.
Sekian
dari saya jika ada nama yang sama, saya mohon maaf bukan untuk menghina ini
hanya cerita belaka. Terima kasih




No comments:
Post a Comment