Breaking

LightBlog

Thursday, December 31, 2015

1 LAWAN 10



Ini kisah dimana saya harus berhadapan dengan 10 orang. Saat itu saya kelas 1 SMP, dimana saya masih keanak – anakan  dan belum bisa berfikir dewasa, kalau saja waktu itu saya tidak mempedulikannya, mungkin tidak akan kejadian seperti ini. 


“TOK!!” BUNYI KEPALA BERBENTURAN
ceritanya saya mempunyai teman penduduk asli sebut saja namanya John, dan teman saya lagi asal kalimatan sebut saja namanya Hasyim, ketika itu saya duduk di satu meja bersama Hasyim ketika lagi asyik ngobrol tiba – tiba dari belakang si Jhon membenturkan kepala saya dengan kepala Hasyim, saya juga tidak mengerti apa maksud dari kelakuannya si Jhon itu? Lumayan keras sampai – sampai berbunyi “TOKK!!” (bunyi kepala berbenturan), akhirnya saya pun jengkel, kesel, marah, campur aduk jadi satu, dengan nada tidak bersalah si Jhon berkat:

Jhon                 : lapo? Lapo? Ora trimo ta? (bahasa jawa)
Saya                : lapo kwe bentur – bentur noo kepalaku?
Hasyim            : lah iyoo kwe ora enek kerjaan ta?? 

Jhon langsung menantang saya dan Hasyim berantem, karena waktu itu saya orangnya tidak suka kekerasan (lebih tepatnya saya tidak pernah berantem hahahah), saya diam saja. 

DIAM BUKAN BERARTI TAKUT
Tapi diam saya bukan diam takut akhirnya saya melapor kejadian ini ke wali kelas saya, setelah saya melaporkan kejadian ini, Jhon memanggil temannya dari kelas 2 SMP mengancam saya dan teman saya Hasyim. Di saat itu wali kelas saya sebut saja namanya pak Anton (nama samaran ) beliau memanggil saya dan hasyim untuk menjelaskan kronologinya, setelah selesai saya jelaskan akhirnya si jhon dan temannya di panggil keruang BP.

TERDENGAR SUARA “PLAKK!!”
“PLAKK!!” suara tamparan terbunyi keras dari ruang BP entah siapa yang di tampar??  hahahah tapi pada saat itu masalah ini bukannya selesai malah berbuntut panjang, keesokan harinya saya merasa selalu di awasi oleh beberapa orang dari kelas 2, hahhahh dunia ini jadi terasa sempit saya jadi tidak bisa kemana – mana ke kantin harus melewati ruang kelas 2jadi mau tak mau saya ahrus di kelas sepanjang hari.
DI HADANG 10 ORANG
Sepulang sekolah tidak biasanya saya semangat, dengan adanya kejadian ini hati saya selalu was – was alhasil saya paling terakhir keluar dari gerbang sekolah, hari sudah mulai gelap, beberapa santri pun sudah bersiap – siap untuk melaksanakan solat mahgrib. Saya pun tidak mau ketinggalan saya juga bersiap – siap untuk berangkat solat mahgrib, setelah saya melaksanakan solat mahgrib ketika ingin pulang saya melihat ada segerombolan muda – muda pribumi (penduduk asli) mungkin sekitar 10 orang menaiki sepeda, seperti menunggu seseorang, dari jauh saya perhatikan sepertinya saya mengenali salah satu dari mereka. Ternyata dugaan saya benar dia adalah teman sekelas saya yaitu JHON.

JURUS 1000 LANGKAH
Dugaan saya benar meraka menunggu saya, hahaahah itu perkiraan saya karena jarang – jarang mereka ada di depan masjid tempat saya tinggal, akhirnya saya menunggu sampai yang keluar banyak, dengan perkiraan waktu yang tepat akhirnya saya bisa lolos dari segerombolan pemuda tersebut dengan menggunakan jurus 1000 langkah. 

PENGECUT
Apakah kalian berfikir saya ini pengecut?? Hahahah benar saya memang pengecut karena di hadang 10 orang. Bagaimana dengan mereka?? menghadapi 1 orang saja butuh 10 orang. Kalian bisa menilai sendiri siapa yang lebih pengecut??

Dari cerita saya tersebut, kita bisa ambil hikmahnya :
1.      Jika kalian adalah seorang pendatang, maka jangan cari masalah dengan penduduk asli.
2.      Selesaikanlah masalah kalian sendiri, itu akan membuat kalian bisa menjadi lebih dewasa.
3.      Perbanyaklah sabar dan diam, karena diam itu emas.
4.      Kalau kalian dihadang 10 orang maka gunakanalah jurus saya ini, hahahha karena walaupun dihadapi pasti kita akan bonyok.

  Sekian dari saya jika ada nama yang sama, saya mohon maaf bukan untuk menghina ini hanya cerita belaka. Terima kasih

No comments:

Post a Comment

Adbox